Senin, 01 Desember 2025
Laju Penjualan EV Di Indonesia Meningkat, BEV Kalahkan HEV
Laju Penjualan EV Di Indonesia Meningkat, BEV Kalahkan HEV

Laju Penjualan EV Di Indonesia Meningkat, BEV Kalahkan HEV

Laju Penjualan EV Di Indonesia Meningkat, BEV Kalahkan HEV

Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email Print
Laju Penjualan EV Di Indonesia Meningkat, BEV Kalahkan HEV
Laju Penjualan EV Di Indonesia Meningkat, BEV Kalahkan HEV

Laju Penjualan EV, industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia memasuki fase penting dalam beberapa kuartal terakhir. Pertumbuhan penjualan kendaraan listrik melonjak lebih tinggi daripada periode sebelumnya, menandai semakin kuatnya peralihan masyarakat dari kendaraan konvensional menuju teknologi rendah emisi. Salah satu hal yang menjadi sorotan besar adalah pencapaian kategori Battery Electric Vehicle (BEV) yang berhasil melampaui penjualan Hybrid Electric Vehicle (HEV) untuk pertama kalinya dalam laporan kuartalan resmi pasar otomotif.

Peningkatan ini menunjukkan adanya perubahan preferensi konsumen yang semakin percaya diri menggunakan kendaraan listrik murni. Sebelumnya, HEV mendominasi karena di anggap sebagai pilihan transisi yang lebih aman bagi masyarakat yang masih ragu dengan teknologi baterai penuh. Namun kini tren tersebut mulai berubah. BEV, yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik tanpa mesin bensin, mencatat pertumbuhan luar biasa dari sisi wholesale maupun retail.

Selain faktor harga yang mulai membaik, pertumbuhan BEV ini juga di dorong oleh semakin banyaknya model baru yang masuk ke pasar Indonesia. Model-model dengan harga bersaing menjadi primadona di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan Medan. Tingginya permintaan membuat produsen meningkatkan pasokan ke dealer, menciptakan siklus positif antara penawaran dan permintaan.

Laju Penjualan EV, di sisi lain, meningkatnya jumlah kendaraan listrik juga di picu oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan. Banyak keluarga di kota besar mulai mempertimbangkan EV sebagai kendaraan utama mereka. Faktor kenyamanan, suara mesin yang lebih tenang, serta biaya operasional yang lebih hemat di banding mobil berbahan bakar bensin menjadi alasan utama perpindahan ini. Semua tren ini menunjukkan bahwa Indonesia kini berada di jalur yang tepat menuju transformasi transportasi ramah lingkungan.

Faktor-Faktor Pendorong Dominasi BEV Atas HEV

Faktor-Faktor Pendorong Dominasi BEV Atas HEV, penjualan BEV yang berhasil menyalip HEV bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Ada sejumlah faktor yang berperan besar dalam mendorong dominasi kendaraan listrik murni ini.

Pertama, kebijakan pemerintah menjadi pendorong paling signifikan. Pemerintah memberikan insentif pajak, pemotongan PPN, hingga insentif langsung untuk beberapa jenis kendaraan listrik, terutama motor listrik dan mobil listrik kecil. BEV menjadi kategori yang paling di untungkan karena posisinya yang di anggap mampu memberikan kontribusi terbesar pada pengurangan emisi karbon. Di sisi lain, kebijakan mengenai HEV tidak seagresif BEV sehingga secara otomatis mempersempit selisih harga antara keduanya.

Kedua, teknologi baterai berkembang dengan cepat. Dulu, BEV sering di pandang sebagai kendaraan yang tidak praktis karena jarak tempuh terbatas dan waktu pengisian lama. Kini, banyak model BEV memiliki jarak tempuh antara 300–500 km dalam satu kali pengisian, yang di anggap lebih dari cukup untuk kebutuhan harian. Teknologi fast charging juga telah membuat proses pengisian semakin cepat, sehingga konsumen merasa lebih nyaman mengoperasikan kendaraan listrik murni.

Ketiga, masuknya produsen dari Cina menjadi katalis besar pertumbuhan pasar. Brand seperti Wuling, BYD, Chery, dan MG berani menawarkan model BEV modern dengan harga terjangkau. Mereka membawa teknologi terbaru, desain futuristik, serta fitur keamanan lengkap yang bersaing dengan produsen Jepang maupun Korea.

Keempat, banyak konsumen melihat bahwa biaya perawatan BEV jauh lebih murah di banding HEV atau mobil konvensional. BEV tidak memerlukan pergantian oli, tidak memiliki sistem knalpot, dan jauh lebih sedikit komponen bergerak. Hal ini mengurangi biaya perawatan tahunan, yang menjadi daya tarik besar terutama bagi keluarga yang ingin menghemat pengeluaran kendaraan dalam jangka panjang.

Kelima, meningkatnya jumlah SPKLU publik di rest area, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga perumahan membuat kekhawatiran akan pengisian daya semakin berkurang. Meskipun distribusinya belum merata, pertumbuhan cepat infrastruktur ini menandai adanya dukungan serius dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta.

Tantangan Yang Masih Di Hadapi Oleh Industri EV

Tantangan Yang Masih Di Hadapi Oleh Industri EV, meski perkembangan BEV sangat positif, industri kendaraan listrik di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan yang perlu segera di atasi untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Masalah pertama adalah infrastruktur pengisian daya yang belum merata. SPKLU banyak tersedia di pulau Jawa, namun di luar Jawa seperti Kalimantan, Sumatra, Nusa Tenggara, dan Sulawesi, fasilitas tersebut masih terbatas. Konsumen di wilayah ini masih ragu membeli BEV karena tidak ingin mengambil risiko kehabisan daya di perjalanan panjang. Penyebaran SPKLU yang lebih merata menjadi kunci penting agar adopsi EV semakin inklusif.

Tantangan kedua adalah harga baterai yang masih cukup tinggi. Meskipun ada penurunan harga secara global, baterai tetap merupakan komponen paling mahal dalam BEV. Jika baterai rusak setelah masa garansi habis, biaya penggantian dapat mencapai 30–40% dari harga kendaraan. Ini menjadi kekhawatiran besar bagi calon pengguna baru.

Tantangan ketiga adalah minimnya edukasi masyarakat mengenai cara merawat dan mengoperasikan kendaraan listrik. Banyak konsumen belum memahami cara mengisi daya dengan benar. Bagaimana menjaga kesehatan baterai, atau apa saja hal-hal yang perlu di perhatikan saat menggunakan BEV sebagai kendaraan harian. Kekurangan edukasi ini menimbulkan kesalahpahaman dan persepsi negatif, terutama dari mereka yang belum pernah menggunakan EV.

Tantangan keempat adalah jaringan bengkel yang masih terbatas. Tidak semua bengkel memiliki fasilitas dan teknisi terlatih untuk menangani EV. Bahkan, tenaga kerja otomotif juga perlu pelatihan tambahan karena sistem EV memiliki karakteristik berbeda dari kendaraan konvensional. Tanpa dukungan purna jual yang kuat, adopsi EV tidak akan maksimal.

Tantangan kelima adalah ketergantungan pada impor komponen, terutama sel baterai. Indonesia memiliki cadangan nikel besar, namun proses hilirisasi masih dalam pengembangan. Untuk mencapai kemandirian penuh, Indonesia harus membangun industri baterai dari hulu ke hilir sehingga biaya produksi BEV bisa di tekan lebih jauh.

Proyeksi Dan Implikasi Ke Depan Bagi Industri Otomotif Indonesia

Proyeksi Dan Implikasi Ke Depan Bagi Industri Otomotif Indonesia, dengan pertumbuhan BEV yang kini melewati HEV, banyak analis memprediksi bahwa Indonesia sedang memasuki era baru industri otomotif. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, pangsa pasar BEV di perkirakan meningkat lebih cepat, terutama setelah harga baterai turun dan infrastruktur semakin matang.

Produsen otomotif akan terus berlomba-lomba menghadirkan model BEV terbaru. Indonesia di prediksi menjadi pusat produksi EV di Asia Tenggara, terutama jika industri baterai lokal telah berkembang penuh. Hal ini membuka peluang besar untuk penyerapan tenaga kerja, investasi asing, dan ekspor kendaraan listrik ke negara tetangga.

Dengan kombinasi insentif, teknologi, kompetisi antarprodusen, serta perubahan perilaku konsumen, BEV kini berada dalam posisi yang sangat kuat untuk terus memimpin pasar EV Indonesia dalam beberapa kuartal mendatang.

Selain itu, transportasi publik juga di prediksi akan semakin elektrifikasi. Bus listrik, taksi listrik, hingga kendaraan logistik berbasis EV akan menjadi bagian penting dari sistem transportasi masa depan Indonesia. Pemerintah daerah pun mulai menyiapkan berbagai aturan untuk mendorong penggunaan kendaraan rendah emisi.

Dari sisi lingkungan, peningkatan penggunaan EV akan menurunkan emisi karbon di sektor transportasi yang selama ini menjadi salah satu penyumbang besar polusi. Kota-kota besar akan merasakan peningkatan kualitas udara, dan masyarakat akan menikmati lingkungan yang lebih bersih dan nyaman.

Secara keseluruhan, keberhasilan BEV melampaui HEV pada kuartal terakhir bukan hanya kemenangan dari sisi penjualan, tetapi juga sinyal kuat bahwa Indonesia siap memasuki era mobilitas baru yang lebih bersih, modern, dan efisien. Dengan terus meningkatnya minat masyarakat serta semakin kuatnya dukungan pemerintah dan industri, masa depan kendaraan listrik di Indonesia terlihat sangat menjanjikan Laju Penjualan EV.

Share : Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email WhatsApp Print

Artikel Terkait