PT Hino

PT Hino Dukung Program B50 Lewat Uji Truk Baru

PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) Mendukung Penuh Program Biodiesel B50 Yang Tengah Di Gencarkan Pemerintah Indonesia. Langkah strategis ini di lakukan melalui langkah pengujian truk-truk baru PT Hino bersama pemerintah. Guna memastikan kesiapan kendaraan niaga menghadapi penggunaan bahan bakar nabati campuran 50 persen (B50) yang ditargetkan akan diterapkan secara lebih luas pada tahun 2026 mendatang.

Sebagai pemain lama dalam industri kendaraan niaga di Indonesia, PT Hino selama ini memang sudah berpengalaman dalam menghadapi perubahan kebijakan bahan bakar. Perusahaan turut serta dalam langkah pemerintah saat peralihan dari B30 hingga B40. Dan kini siap kembali berada di garda depan dalam uji coba B50 yang di nilai penting untuk ketahanan energi nasional.

Program B50 dan Dukungan PT Hino

Biodiesel B50 adalah bahan bakar diesel yang merupakan campuran antara bahan bakar fosil konvensional dengan biodiesel berbasis minyak kelapa sawit (FAME) sebanyak 50 persen. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi. Mengurangi konsumsi BBM impor, serta meningkatkan penggunaan energi terbarukan dalam negeri.

Hino mendukung keseriusan pemerintah tersebut dengan menurunkan unit-unit truknya untuk ikut serta dalam pengujian B50 yang dilakukan bersama instansi terkait. Uji coba ini tidak hanya dilaksanakan oleh pemerintah, tetapi juga dilakukan secara mandiri oleh Hino bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengevaluasi performa kendaraan.

Direktur HMMI, Harianto Sariyan, menyatakan bahwa Hino selalu proaktif mengikuti setiap perubahan kebijakan bahan bakar, termasuk langkah terbaru menuju B50. Ia menegaskan bahwa perusahaan ingin memastikan kendaraan-kendaraan niaga yang sampai ke tangan konsumen tetap berkinerja optimal meski menggunakan campuran biodiesel yang lebih tinggi ini.

Uji Coba dan Penyesuaian Teknis

Pengujian bersama pemerintah di tujukan untuk mendapatkan data teknis yang komprehensif tentang pengaruh B50 terhadap mesin, sistem pembakaran, dan komponen lainnya pada truk maupun bus Hino. Hal ini mencakup pemeriksaan kondisi mesin saat operasional pada berbagai medan. Serta mengevaluasi apakah di perlukan penyesuaian spesifikasi teknis sebelum B50 dapat di gunakan secara resmi.

Executive Officer dari HMMI, Wingky Kurniawan, menambahkan kalau hasil uji coba ini akan memberikan informasi penting terkait performa mesin dan sistem pembakaran. Jika nantinya tampak di perlukan perubahan pada komponen seperti filter solar, sistem injeksi, atau material mesin lain. Hino telah siap melakukan penyesuaian tersebut agar kendaraan tetap andal dan tahan lama.

“Ini bukan semata soal ikut anjuran pemerintah, tetapi tentang memastikan kendaraan kami sepenuhnya kompatibel. Dan aman di pakai dalam penggunaan bahan bakar yang lebih tinggi kadar nabatinya,” ungkap Wingky.

Evaluasi Performan dan Tantangan

Uji jalan atau road test kendaraan menggunakan B50 juga di lakukan di berbagai lintasan untuk mengumpulkan data terkait efisiensi bahan bakar, daya tahan mesin. Serta dampaknya terhadap sistem kendaraan secara keseluruhan. Hasil awal pengujian oleh pemerintah menyebutkan bahwa uji jalan kendaraan dengan B50 baru mencapai beberapa ribu kilometer. Dan masih dalam tahap evaluasi untuk melihat temuan-temuan teknis yang muncul sebelum implementasi mandatori di lakukan.

Selain aspek teknis, implementasi B50 juga mengundang diskusi lebih luas terkait kesiapan infrastruktur pasokan biodiesel, alokasi FAME. Serta dampaknya terhadap distribusi bahan bakar nasional. Pemerintah mengkaji kesiapan produksi FAME agar cukup mendukung target penggunaan B50 tanpa mengorbankan pasokan bahan bakar sektor lain.

Manfaat Program B50 bagi Industri dan Ketahanan Energi

Program Biodiesel B50 di nilai menjadi langkah besar dalam peralihan menuju energi rendah karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Kebijakan ini di harapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor solar, tetapi juga meningkatkan nilai tambah industri sawit nasional. Kemudian membuka lapangan kerja, serta memberi dampak positif bagi neraca perdagangan.

Dengan dukungan penuh dari industri kendaraan seperti Hino, serta pelibatan lembaga riset dan pemerintah, di harapkan transisi ke penggunaan B50 berlangsung lancar dan aman bagi semua sektor kendaraan berat di Indonesia.