Harga Minyak

Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 1 Persen Usai AS Serang Iran

Harga Minyak Dunia Kembali Mengalami Kenaikan Pada Perdagangan Senin (31/8/2026). Pergerakan Tersebut Terjadi Setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sasaran militer Iran di kawasan strategis Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia sehingga setiap peningkatan ketegangan di kawasan tersebut dapat langsung memengaruhi sentimen pasar energi.

Serangan AS Picu Kekhawatiran Pasar

Amerika Serikat dilaporkan menyerang dua peluncur rudal Iran yang berada di Pulau Larak, wilayah yang terletak di dekat Selat Hormuz. Serangan tersebut meningkatkan kembali ketegangan antara Washington dan Teheran setelah sebelumnya terdapat harapan bahwa konflik dapat mereda.

Iran kemudian memberikan respons dengan menyerang pangkalan udara Amerika Serikat di Yordania. Situasi tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Investor dan pelaku pasar energi pun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan terhadap produksi maupun distribusi minyak. Kondisi geopolitik seperti ini biasanya membuat harga minyak lebih sensitif karena pasar harus memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan.

Brent Tembus Mendekati 90 Dollar AS

Harga minyak mentah Brent berjangka mengalami kenaikan lebih dari 1 persen. Pada perdagangan tersebut, Brent sempat berada di sekitar US$89 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penguatan.

Data perdagangan yang dikutip sejumlah media menunjukkan Brent sempat naik sekitar 1,2 persen menjadi US$89,18 per barel, sedangkan WTI meningkat sekitar 1,1 persen menjadi US$84,32 per barel.

Pergerakan harga kemudian semakin menguat dalam perdagangan berikutnya. Reuters melaporkan Brent sempat mencapai sekitar US$90,61 per barel, sedangkan WTI berada di sekitar US$85,53 per barel.

Kenaikan tersebut menunjukkan bagaimana cepatnya pasar merespons perkembangan militer di kawasan penghasil dan jalur utama perdagangan minyak.

Selat Hormuz Jadi Perhatian Utama

Salah satu faktor yang membuat pasar khawatir adalah posisi Selat Hormuz. Jalur laut yang berada di antara Iran dan Oman tersebut menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.

Sebelum konflik terbaru, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati kawasan tersebut. Karena itu, gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasokan energi internasional.

Data pelayaran juga menunjukkan aktivitas kapal di kawasan tersebut mengalami penurunan. Perusahaan pelayaran menjadi lebih berhati-hati karena meningkatnya risiko keamanan akibat konflik yang kembali memanas.

Kenaikan Harga Minyak Berdampak terhadap Inflasi Global

Kenaikan harga minyak dunia tidak hanya berdampak pada perusahaan energi. Jika berlangsung lama, harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi berbagai barang.

Minyak merupakan salah satu komponen penting dalam perekonomian global. Bahan bakar digunakan untuk transportasi, sementara produk turunannya juga digunakan dalam berbagai kegiatan industri.

Ketika harga energi meningkat, perusahaan dapat menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi. Dalam kondisi tertentu, sebagian biaya tersebut kemudian dapat di teruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa.

Situasi ini dapat menambah tekanan inflasi di berbagai negara.

Indonesia Ikut Perlu Mewaspadai

Sebagai negara yang masih membutuhkan impor minyak untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi, Indonesia juga perlu memperhatikan perkembangan harga minyak dunia.

Kenaikan harga minyak internasional dapat memengaruhi biaya pengadaan energi dan menjadi salah satu faktor yang di perhitungkan dalam kebijakan harga bahan bakar.

Selain itu, perubahan harga minyak juga dapat berdampak terhadap nilai tukar, neraca perdagangan, hingga biaya transportasi. Namun, dampak akhirnya terhadap masyarakat akan bergantung pada berbagai faktor lain, termasuk kebijakan pemerintah dan kondisi harga energi domestik.

Pasar Masih Menunggu Perkembangan Konflik

Untuk saat ini, arah harga masih sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran. Jika ketegangan semakin meningkat dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu, tekanan terhadap harga minyak berpotensi semakin besar.

Sebaliknya, jika jalur diplomasi kembali terbuka dan risiko gangguan pasokan menurun, harga minyak dapat kembali mengalami tekanan.